Ngopi bukan sekadar aktivitas sederhana. Di balik secangkir kopi, ada ruang yang membentuk pengalaman, ada arsitektur yang meninggalkan jejak. Café hari ini bukan hanya wadah minum, tetapi juga ruang sosial, tempat berkumpul, sekaligus karya desain yang mampu memperkaya momen. Lewat “Architecture Trace in a Cup”, kami merangkum empat café dengan karakter berbeda, namun sama-sama menampilkan bagaimana arsitektur dan interior memberi sentuhan pada pengalaman menikmati kopi.
1. Wyah Art & Creative Space – Parisauli Arsitek Studio (PSA Studio)


Terletak di daerah Ubud yang dikelilingi hutan dan site berkontur, Wyah Communal Space & Café menjadi contoh bagaimana arsitektur bisa menyatu dengan alam. Bangunan seluas 518 m² ini mempertahankan kontur tanah, sehingga bentuknya mengalir mengikuti lahan dan pepohonan. Wujud poligon membulat yang ditutupi sirap kayu ulin melahirkan pola dinamis yang menyatu dengan lingkungan.


Tanpa dinding dan tanpa AC, pengunjung diajak merasakan langsung fenomena alam yang hadir secara alami: panas, angin, kelembaban, cahaya, hingga bayangan. Adaptasi kontur menghadirkan hubungan unik antara manusia, ruang, dan alam. Hasilnya, café ini bukan hanya tempat singgah, tetapi pengalaman menyeluruh yang melibatkan panca indera.
2. Demore Bakehouse – Helen Agustine & Senimanruang

Bergeser ke kawasan urban, sebuah dessert bar di Kelapa Gading hadir dengan pendekatan berbeda. Di tengah area yang didominasi bangunan persegi rigid, desainer merancang bangunan yang sederhana sekaligus organik. Bentuk lengkung diterapkan pada fasad, interior, hingga furnitur, menciptakan suasana kontras sekaligus menjadi oase bagi lingkungan sekitar.

Permainan fasad berupa framing boxes dari lantai 1 sampai 3 mengurangi kesan bulky, sementara dinding dengan cat tekstur warna ivory membawa nuansa minimalis. Setiap lantai difungsikan dengan detail: lantai pertama untuk display kue, dessert bar, dan restoran; lantai kedua untuk restoran indoor-outdoor dengan open kitchen; dan lantai ketiga sebagai ruang kantor privat.

Detail desain seperti plafon lengkung dari kayu lapis yang berlanjut menjadi meja display kue, serta bench organik di lantai dua, menghadirkan pengalaman ruang yang unik. Tidak hanya fungsional, café ini menawarkan pengalaman spasial yang hangat, sederhana, sekaligus inspiratif.

3. Parc Coffee & Bistro – TSDS Architecture & Interior

Di Bintaro, Parc Coffee & Bistro menghadirkan pengalaman berbeda melalui permainan spasial yang berlapis. Fasad bangunan dipenuhi susunan roster yang menjadi identitas visual sekaligus menciptakan batas antara luar dan dalam. Dari entrance hingga main area, desainnya sengaja dibuat berlapis, mengajak pengunjung melewati perjalanan ruang sebelum akhirnya tiba di area utama.

Main area menampilkan langit-langit tinggi ganda dengan kubah ikonik sebagai pusat perhatian. Area smoking di depan bangunan dikelilingi kaca dan tanaman hijau, sementara bagian belakang menjadi lorong monokrom untuk area servis. Konsep ini menekankan pengalaman bergerak dari satu ruang ke ruang lain, di mana setiap lapisan memiliki suasana tersendiri. Dengan pendekatan ini, Parc tidak sekadar café, tetapi ruang sosial yang kaya pengalaman spasial.

4. Nusantara Healing Chill – BD Studio Medan

Masih dengan semangat menyatu dengan alam, Nusantara Healing Chill hadir sebagai ruang publik yang merespon kontur lahan. Bangunannya mengikuti ketinggian tapak, membentuk semi-lingkaran yang adaptif dengan kondisi sekitar. Proyek ini tidak hanya menjadi café, tetapi juga menyediakan ruang publik lain: area pameran seni, ruang komunal, hingga mushola.


Filosofi arsitektur café ini berakar dari budaya Karo. Ikon utama terletak pada bagian atap, di mana massa kotak di atas kanopi mengadopsi bentuk raga dayang di atas tudung tradisional wanita Karo. Material batu alam, glass block, dan polycarbonate dipilih untuk memperkuat kesan alami sekaligus modern. Seperti namanya, Healing Chill, café ini mengundang pengunjung untuk bersantai sambil menikmati pemandangan, menjadikan arsitektur sebagai medium pertemuan antara budaya, alam, dan kehidupan sosial.
Jejak Arsitektur dalam Secangkir Kopi
Keempat café ini menunjukkan bagaimana arsitektur bisa menghadirkan pengalaman yang lebih dari sekadar fungsi. Di Ubud, kontur tanah jadi bahasa desain. Di Nusantara Healing Chill, budaya Karo terjalin dengan ruang publik. Di Kelapa Gading, bentuk organik menghadirkan kesederhanaan yang dinamis. Sementara di Bintaro, lapisan spasial menjadikan café sebagai perjalanan rasa dan ruang.
Arsitektur meninggalkan jejaknya di setiap detail, membuat secangkir kopi tak hanya dinikmati oleh lidah, tetapi juga oleh ruang, cahaya, dan atmosfer. Empat café, empat kisah, satu benang merah: Architecture Trace in a Cup.




















