Asrinesia.com – Di tengah situasi bisnis properti yang belum cukup kondusif, PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP) atau Paradise Indonesia menutup tahun buku 2025 dengan kinerja yang menunjukkan tren pertumbuhan solid.
Di tahun 2025, perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, properti komersial, dan penjualan properti ini mencatatkan kinerja bisnis yang mengesankan mendapat lonjakan pendapatan mencapai 125 persen disbanding tahun2024. Penjualan apartemen Antasari Place menjadi penyumbang utama pertumbuhan pendapatan INPP.
Sejak Maret 2025 INPP sudah melakukan serah terima unit kepada konsumen. Apartemen sudah mulai dihuni, area ritel The Alley dan apartemen servisnya (Citadines Antasari) juga sudah beroperasi.
Hal ini terungkap dalam media gathering yang dipaparkan oleh Presiden Direktur-CEO INPP Anthony Prabowo Susilo dan Direktur Paradise Indonesia, Surina, dalam acara bertajuk “Business Outlook 2026, Driving Business Growth Through Transformation” yang digelar di Jakarta, (30/1/2026).
Baca juga : MOIRE Bespoke Rugs Buka Showroom Baru
Sejak berdiri tahun 2002, INPP sudah mengembangkan lebih dari 25 proyek. Semuanya berhasil dibangun dan dipasarkan sesuai target. Proyek tersebut berupa 14 hotel di Jakarta, Bali, Batam, Yogyakarta, dan Makassar, dan mengoperasikan 6 pusat perbelanjaan di Jakarta, Bandung, dan Bali. Antara lain Grand Hyatt, Sheraton Bali, Hotel Harris, Hyatt Place Makassar, Bali Beach Shopping Centre, mal fX Sudirman, dan 23Paskal Bandung.
Tahun ini Paradise Indonesia menargetkan kenaikan pendapatan usaha antara 5-10 persen, yang akan diperoleh dari intensifikasi proyek-proyek eksisting (mal dan hotel) yang meningkatkan pendapatannya, serta pengembangan proyek baru di Balikpapan, Kalimantan Timur.

Anthony Prabowo Susilo menyatakan, INPP sudah hadir di delapan kota besar: Batam, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Bali, Makassar, dan segera menyusul Semarang dan Balikpapan yang menggarap tiga lini: komersial, perhotelan, dan residensial dengan konsep 4 M: mixed-use development, mid scale, middle-up, dan major cities. Dengan porsi recurring income yang kuat untuk menjalankan bisnis yang berkelanjutan.
“Kami akan terus menjaga pertumbuhan double digit dengan mengintensifkan capex dan improvement aset, salah satunya seperti di Sheraton yang sudah ada spa, kami perluas dengan wings tersendiri. Kami juga melakukan intensifikasi dari aset-aset yang ada seperti menambah meeting room di FX, extension di 23 Pascal Bandung yang menambah luas 20 persen, dan akan dilihat aset apa lagi yang bisa diintensifkan,” tutur Anthony.
Baca juga : Rayakan Berbagai Momen Perayaan, Mulai Dari Rumah
Di Balikpapan membuat sesuatu yang beda, konsepnya mixed use yang ada CBD zone dengan konsep mid to low density. Jadi target double digit growth dan double digit profitability.
“23 Pascal bisa tambah 20 persen dari net leasable area karena ada waiting list 2-3 tahun. Jadi kami bangun mal karena pasarnya memang ada. Pendapatan juga ditopang dari penjualan unit Antasari Place, dari 980 unit saat ini tersisa 70 unit dan mayoritasnya (80 persen) pada tahun 2025 penjualan dengan insentif PPN DTP,” ucapnya.
“Antasari Place mulai berencana untuk tower kedua dan diteruskan dengan kerja sama dengan Hankyu Hanshin. Masuk ke Semarang, kota ini sebagai commercial hub Jateng yang hingga 10 tahun ke depan masih akan berkembang. Dari 37 ribu net leasable di tengah perjalanan dibuat menjadi 48 ribu karena minat yang begitu tinggi,” ungkap Anthony.
“Capex tahun lalu 1 triliun karena kami banyak membangun seperti Antasari Place dan Semarang, kalau untuk tahun ini sekitar 400 miliar yang akan difokuskan untuk ekspansi dann renovasi produk eksisting. Tahun ini optimistis bisa tumbuh 20-30 persen,” tutup Surina.






















