Bentuk tapak yang unik, seperti huruf “L” terbalik menjadi tantangan ketika proses pembangunan berlangsung. Hunian dengan konsep kontemporer yang dibangun di atas lahan seluas 407 m2 mengacu pada rancangan “form follows function”, di mana massa bangunan tertata mengikuti sirkulasi yang mengadaptasi alur dan pola kegiatan dari penghuni.

Penghuni menginginkan ruang semi privat yang dikelilingi oleh area hijau. Namun karena keterbatasan lahan dan untuk mengoptimalkan ruang-ruang yang diinginkan penghuni, Ardie Prasetya dan tim sebagai arsitek hunian ini menawarkan sebaliknya, yaitu ruang yang mengelilingi area hijau, sehingga hubungan antar ruang tetap terjaga dan mendapatkan cahaya yang cukup.
Bahan material yang dipilih beton dan ada permainan roster pada fasad bangunan. Melalui desain fasad dan pemilihan bahan materialnya, kesan sederhana ingin ditampilkan dan diharapkan dapat membaur dengan rumah-rumah lain di sekelilingnya.

Konsep rancangan form follows function membagi zoning dan tata letak ruang disusun berdasarkan alur kegiatan sehari-hari penghuni. Garasi yang dibuat terpisah dari bangunan utama namun tetap dapat terlihat terutama dari ruang makan, untuk memenuhi keinginan pemilik atas kecintaan pada mobilnya. Ruang makan menjadi pusat ruang transisi dari garasi dan ruang keluarga.
Hunian dibagi menjadi dua massa, untuk mendapatkan sirkulasi udara dan cahaya alami yang baik pada bagian dalamnya. Sesuai dengan konsep utama hunian form follows function, area interior dibuat seakan mengalir mengikuti ruang- ruang sesuai kebutuhan pemilik dengan inner-court sebagai pusat hunian.

Konsep interior mengacu pada desain kontemporer modern melalui pemilihan furnitur yang modern dengan penggunaan material berwarna hitam. Untuk memberikan kesan natural, desainer menggunakan sentuhan kayu sebagai aksen. Sedangkan untuk skema warnanya, desainer memilih kombinasi warna earth tone agar terkesan maskulin, dengan dominasi warna putih dan sentuhan hitam serta tekstur kayu untuk memberi kesan natural.

Konsep pencahayaan alami hunian diperoleh dengan membagi massa bangunan menjadi tiga bagian, agar cahaya alami dapat masuk secara maksimal. Aplikasi roster sebagai kulit sekunder pada bangunan untuk membatasi cahaya yang masuk agar tidak berlebihan. Demikan juga halnya dengan sirkulasi udara, melalui massa bangunan yang dibagi menjadi tiga bagian, ruang terbuka dan beberapa koridor ini menjadi peran sebagai akses sirkulasi udara yang dialirkan dari luar ke dalam bangunan.
Arsitek: Ardie Prasetya
Fotografer: Mario Wibowo, Daniel Jiang






















