Asrinesia.com – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP/Paradise Indonesia) menyelenggarakan Paparan Publik Tahun 2026 di Citadines Antasari Jakarta, Jakarta Selatan (18/6/2026).
Paparan Public meliputi mata acara seperti Sekilas Paradise Indonesia, Bisnis Paradise Indonesia, Kinerja Keuangan FY 2025 & 1Q-2026, Outlook dan target 2026 serta Enviromental, Sosial, Governance (ESG)
Paparan publik disampaikan Presiden Komisaris INPP Anthony Prabowo Susilo (sebelumnya presiden direktur), Presiden Direktur Andri Hadi (pejabat baru yang menggantikan Anthony), dan Wakil Presiden Direktur Surina (sebelumnya direktur keuangan), didampingi Corporate Secretary/Chief Legal Yanti Makmur. Secara keseluruhan setelah RUPST 2026, pengurus INPP terdiri dari 7 komisaris dan 5 direksi.
Andri Hadi menggantikan Anthony Prabowo Susilo yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur. Kini, Anthony dirotasi menduduki jabatan baru sebagai Presiden Komisaris INPP. Perubahan pengurus perseroan ini juga diwarnai dengan pengunduran diri Patrick Santosa Rendradjaja dari jabatannya sebagai Direktur pada akhir Mei 2026 lalu.

Kinerja keuangan positif
Presiden Komisaris INPP Anthony Prabowo Susilo menjelaskan bahwa selain menyetujui perubahan susunan pengurus, perseroan juga melaporkan capaian kinerja keuangan yang positif pada awal tahun ini.
Kinerja keuangan perseroan pada kuartal pertama tahun 2026 berhasil berbalik positif dengan membukukan laba bersih. Menurut Anthony, perolehan laba bersih tersebut didorong oleh kuatnya pertumbuhan bisnis utama perseroan di segmen komersial, hospitality atau perhotelan, dan penjualan properti.
Dalam paparan tersebut INPP meraih pendapatan Rp326,9 miliar pada triwulan pertama (Q1) 2026. Meningkat 14 persen dibandingkan triwulan I 2025 yang tercatat sebesar Rp286 miliar.
Baca juga : Lewat Roadshow 2026 di Jakarta, LG Dorong Inovasi Monitor di Indonesia
Menurut Surina, sebanyak 48 persen dari pendapatan Q1 2026 itu, diperoleh dari segmen perhotelan (hospitality), 42 persen dari segmen komersial (pusat belanja dan ritel), dan 10 persen dari segmen penjualan property (apartemen).
“Dengan demikian, sekitar 90 persen pendapatan perseroan pada triwulan satu tahun ini, berasal dari recurring income (pendapatan berulang atau hasil sewa dan jasa manajemen properti),” katanya.
Kendati demikian, segmen penjualan properti mencatat kenaikan pendapatan tertinggi, mencapai 38 persen, menyusul serah terima unit apartemen di Antarasi Place, Jakarta Selatan. Diikuti segmen komersial yang naik 19 persen dan hospitality 4 persen.
Anthony menyampaikan, ke depan INPP tetap akan fokus pada penguatan recurring income yang ditargetkan pada kisaran 70 persenan sepanjang tahun ini.
Baca juga : Wavin, Sekaligus Raih Tiga Sertifikasi ISO
Pencapaian target akan dilakukan melalui penyelesaian 23 Semarang Shopping Center pada triwulan dua tahun ini, pengembangan proyek mixed use 88 Plaza Balikpapan, pengembangan Antasari Place tower kedua, dan intensifikasi (peningkatan kapasitas dan kualitas) proyek-proyek yang sudah lama beroperasi.
“Strategi yang tetap fokus pada recurring income, diharapkan bisa mendorong stabilitas arus kas perusahaan, sekaligus memperkuat pendapatan di tengah dinamika industri properti serta situasi ekonomi dan bisnis mikro-makro,” terangnya.
Ia menambahkan, Paradise Indonesia bukan sekadar mengembangkan properti, tapi menghadirkan proyek berkelanjutan untuk menciptakan nilai tambah jangka panjang, melalui ekspansi yang terukur dan menjaga stabilitas finansial perseroan tetap solid.
Saat ini INPP mengelola 13 hotel ditambah 2 serviced apartment, 6 mal di Jakarta, Bandung, Bali, dan Semarang, serta 6 properti lainnya seperti apartemen dan ruko di Batam, Bali, Makassar, Jakarta, dan Balikpapan.
Baca juga : Signify Perkuat Diri Dikancah Pencahayaan Olahraga Dunia.
Menurut Anthony, selama ini INPP menghadirkan proyek-proyek yang memadukan estetika desain, fungsi ruang, serta konsep gaya hidup dalam kesatuan yang harmonis. Hal tersebut diwujudkan dalam berbagai portofolio yang tersebar di kota besar di Indonesia, mencakup kawasan mixed-use, hotel, retail, hingga residensial.
Dengan pendekatan desain yang lebih modern dan terintegrasi, Antasari Place didesain menjadi kawasan mixed-use. Yakni, yang menggabungkan hunian, komersial, dan fasilitas penunjang dalam satu lingkungan yang hidup. Konsep yang sama dihadirkan di 88 Plaza, Balikpapan yang mengedepankan ruang terbuka yang dikemas dalam kawasan urban distric modern.
“Proyek INPP menyajikan pendekatan human centric dan walkable design, setiap ruang dirancang dengan mempertimbangkan bagaimana manusia berinteraksi, bergerak, dan merasakan lingkungan di dalamnya,” tutup Anthony.






















