Asrinesia.com – Material kini tidak lagi sekadar menjadi elemen pendukung dalam sebuah produk. Di tangan desainer, material dapat menentukan karakter, bentuk, fungsi, hingga cerita yang ingin disampaikan. Gagasan tersebut menjadi salah satu eksplorasi utama MADENESS 2026 melalui tema “Made in Asia”.
Digelar pada 24–27 September 2026 di Hall 3, Building A, NICE PIK 2, Jakarta, MADENESS kembali mempertemukan dunia desain, material, teknologi, dan proses produksi. Kolaborasi Playo, Interzum, dan IFFINA+ ini menjadi penyelenggaraan keempat, sekaligus ruang untuk melihat bagaimana perkembangan material di Asia mulai memengaruhi cara produk dan ruang dirancang. Tahun ini, Genie Anggita hadir sebagai Designer, sementara Iqra Firdausy menjadi Guest Designer.

Membaca Material dari Lingkungan Sekitar
Salah satu gagasan yang ditawarkan MADENESS 2026 adalah perubahan cara memandang material. Jika sebelumnya material baru banyak dicari dari sumber alam, kini perhatian mulai bergeser pada material yang sudah tersedia di sekitar manusia.
Kota, misalnya, tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya aktivitas, tetapi juga dapat menjadi sumber material yang dieksplorasi kembali. Material sisa, hasil produksi, hingga bahan yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi bagian dari produk baru.
Pendekatan ini kemudian bertemu dengan teknologi dan pengetahuan tradisional. Hasilnya bukan sekadar produk dengan tampilan berbeda, melainkan karya yang membawa cerita tentang asal material, proses pengolahan, hingga kemungkinan penggunaannya kembali setelah masa pakai berakhir.

Material Atlas Asia
Gagasan tersebut terlihat melalui Material Atlas Asia, salah satu program utama MADENESS 2026. Area ini mengajak pengunjung mengikuti perjalanan material sejak masih berupa bahan mentah, melalui berbagai tahap pengolahan, hingga memiliki kemungkinan menjadi bagian dari produk maupun ruang.
Eksplorasi tersebut menghadirkan material dari sejumlah negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, dan Jepang. Program ini merupakan kolaborasi dengan CAST Foundation, Bioeconomy Corporation Malaysia, dan Borneo Laboratory.
Keberagaman sumber daya, budaya, teknologi, serta metode produksi di tiap wilayah menunjukkan bahwa material lokal memiliki potensi desain yang luas. Perbedaan tersebut justru dapat melahirkan karakter dan pendekatan desain yang beragam.

Dari Material ke Pengalaman Ruang
Eksplorasi material kemudian diterjemahkan dalam skala ruang melalui Alterrama. Instalasi interior berskala penuh ini memperlihatkan bagaimana material hasil bio-fabrikasi maupun material sirkular dapat diterapkan menjadi elemen interior dan produk.
Alterrama melibatkan Bell Living Lab, Boolet, Borneo Laboratory, Conture Concrete Lab, Homlab, Pable, Primatama Carpet, Repair Project, dan ROA Handwoven, serta kolaborasi The New Factory x Studio Mahardika.
Tekstur, warna, pola, dan struktur permukaan menjadi bagian dari proses menciptakan identitas visual. Material alternatif pun tidak harus selalu terlihat eksperimental. Dengan pendekatan desain yang tepat, material tersebut dapat hadir sebagai produk yang memiliki nilai estetika sekaligus fungsi.

Desain sebagai Pengalaman
MADENESS 2026 juga menghadirkan Common Ground, ruang terbuka yang mengajak pengunjung berinteraksi melalui aktivitas publik dan collective play. Kolaborasi produk di area ini melibatkan MYCL dan Dus Duk Duk.
Konsep tersebut memperluas pemahaman mengenai desain. Produk tidak hanya menjadi benda yang dilihat, tetapi juga bagian dari pengalaman sosial. Cara orang menggunakan ruang, berinteraksi dengan objek, dan bertemu dengan orang lain menjadi bagian dari proses desain.
Untuk melihat lebih jauh ekosistem di balik sebuah karya, MADENESS menghadirkan . Program ini membahas perkembangan material alternatif di Asia sekaligus mempertemukan pelaku biomaterial regeneratif Asia Tenggara dengan microfactory di Indonesia, termasuk MYCL, The New Factory, Conture Concrete Lab, Banana Paper, dan Design Center ITB.
Melalui “Made in Asia”, MADENESS 2026 menunjukkan bahwa masa depan desain tidak hanya ditentukan oleh bentuk dan estetika. Material, proses produksi, teknologi, serta pengetahuan lokal memiliki peran penting dalam membentuk produk masa kini dan masa depan.
Pada akhirnya, sebuah produk dapat dilihat dari pertanyaan yang lebih luas: material apa yang digunakan, dari mana asalnya, bagaimana diproses, dan apa yang dapat terjadi setelah produk selesai digunakan. Dari sanalah desain menemukan ruang baru untuk berkembang—lebih dekat dengan material, lebih sadar terhadap proses, dan terbuka terhadap kemungkinan baru yang tumbuh dari Asia.






















