Asrinesia.com – Tomohon Jazz Festival 2026 yang berlangsung selama dua hari mempertemukan musik, seni, budaya, alam, dan gaya hidup dalam sebuah festival yang santai dan terbuka,berlangsung dengan sukses.
Festival perdana yang digelar sebagai bagian dari grand opening Metland Marron Hotel Tomohon ini mendapat sambutan meriah. Lebih dari 7.000 pengunjung hadir, mulai dari anak-anak, keluarga, komunitas, hingga penikmat musik.
Tomohon Jazz Festival menawarkan pengalaman yang lebih cair. Pengunjung bebas menikmati musik sambil bersantai dan berpiknik. Konsep ini membuat festival terasa seperti ruang publik yang dapat dinikmati bersama.
Di panggung utama, sederet musisi nasional dan daerah bergantian menghibur pengunjung. Kahitna, Maliq & D’Essentials, Andien, Kunto Aji, Ardhito Pramono, Nadin Amizah, Rony Parulian, Wizz Baker, LS Band, Ever Salikara, Donfree, Kaban, hingga Jarvvv menghadirkan warna musik yang beragam.

Seni, Tradisi, dan Alam dalam Satu Ruang
Sejak pagi, aktivitas telah dimulai melalui program Wellness di Taman Kelong. Pengunjung dapat mengikuti Pilates dan Hatha Yoga bersama Manado Pilates & Yoga, menikmati aktivitas fisik sekaligus merasakan suasana alam Tomohon sebelum rangkaian musik dimulai.
Di area Titik Tumbuh yang dihadirkan Yayasan Masarang, festival berkembang menjadi ruang untuk mengenal seni dan budaya lokal. Workshop Bloom & Create mengajak pengunjung membuat suvenir menggunakan bunga tekan atau pressed flowers.
Ada pula Art for Conservation yang menghubungkan karya seni dengan kepedulian terhadap lingkungan. Sementara melalui Denyut Minahasa, pengunjung diperkenalkan dengan kolintang, salah satu kekayaan musik tradisional Minahasa.

Pesan mengenai lingkungan pun disampaikan dengan cara yang ringan. Panggung Jeda Tawa menghadirkan komika lokal, sedangkan Pojok Interaktif Akar Masalah mengajak pengunjung bermain sambil mengenal isu sampah, restorasi, konservasi, dan budaya.
Kreativitas juga menjadi bagian penting melalui Shared Canvas Warna Warga. Di sini, pengunjung tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut memberikan kontribusi pada sebuah karya bersama.
Bagi keluarga, tersedia pula playground Kumpul Bocah yang memberikan ruang bermain bagi anak-anak.
Lebih dari Sekadar Festival Musik
Rangkaian kegiatan tersebut membuat Tomohon Jazz Festival terasa lebih seperti sebuah pengalaman daripada sekadar pertunjukan musik. Pengunjung dapat berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lainnya, menikmati suasana alam, mencicipi atmosfer budaya lokal, lalu kembali berkumpul di depan panggung ketika musik dimulai.
Baca juga : LG Perluas WhiteGlove Service, Hadirkan Pengalaman Premium hingga ke Rumah
Konsep inilah yang berpotensi menjadi identitas festival di masa mendatang. Musik menjadi pintu masuk, sementara seni, budaya, alam, dan komunitas memperkaya pengalaman di dalamnya.
Direktur PT Metropolitan Karyadeka Tomohon, Wahyu Sulistio, mengatakan penyelenggaraan perdana tersebut merupakan langkah awal untuk menghadirkan ruang rekreasi yang memadukan berbagai potensi Tomohon.
“Kami bersyukur Tomohon Jazz Festival 2026 dapat terselenggara dengan baik dan mendapat sambutan positif dari masyarakat. Bagi kami, festival ini bukan hanya menjadi bagian dari rangkaian grand opening Metland Marron Hotel Tomohon, tetapi juga langkah awal untuk menghadirkan ruang rekreasi yang memadukan musik, alam, seni dan budaya Minahasa,” ujarnya.
Baca juga : Rayakan 34 Tahun, Synthesis Development Hadirkan Promo Hunian Lewat “Race to Finish”
Bagi Kota Tomohon, kehadiran festival semacam ini membuka peluang untuk memperkenalkan wajah lain pariwisata Sulawesi Utara. Bukan hanya pemandangan alam, tetapi juga kreativitas masyarakat, seni, tradisi, dan kehidupan komunitas.
Dua hari penyelenggaraan Tomohon Jazz Festival 2026 akhirnya menjadi sebuah perkenalan. Perkenalan terhadap festival baru, ruang kreatif baru, sekaligus cara baru menikmati Tomohon.
Jika musik mampu mengundang orang datang, seni dan budaya membuat mereka memiliki alasan untuk tinggal lebih lama. Dari sinilah Tomohon Jazz Festival berpeluang tumbuh menjadi agenda tahunan yang bukan hanya merayakan musik, tetapi juga merayakan karakter dan kekayaan Minahasa.






















