Asrinesia.com – Batik selama ini lekat dengan busana tradisional dan berbagai kesempatan formal. Namun, di tangan desainer tekstil dan fesyen Amanda Hartanto, batik mendapatkan ruang yang lebih luas. Tidak hanya menjadi kain atau pakaian, batik diterjemahkan menjadi bagian dari gaya hidup modern melalui permainan motif, warna, tekstur, hingga berbagai produk yang dekat dengan keseharian.
Melalui pendekatan kontemporer, ia berupaya memperkenalkan batik tanpa menghilangkan identitas dan teknik tradisional yang menjadi akar dari warisan budaya Indonesia.
Perjalanan Amanda dengan batik sebenarnya tidak dimulai dari ketertarikan yang besar. Saat menempuh pendidikan Kriya Tekstil dan Seni Tenun di Institut Teknologi Bandung (ITB), batik justru bukan bidang yang langsung menarik perhatiannya.
Namun, pengalaman bekerja sebagai desainer batik mengubah pandangannya. Dari sana, Amanda semakin mengenal proses, karakter, dan kekayaan teknik batik. Pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan ketertarikannya untuk mendalami batik sekaligus mencari cara baru agar warisan budaya tersebut dapat diterima dalam kehidupan masa kini.

Pengalaman akademis di bidang tekstil dan fesyen menjadi bekal penting dalam mengembangkan pendekatan desain yang tidak hanya menonjolkan motif, tetapi juga memperhatikan material, teknik, bentuk, dan fungsi.
Memperluas Makna Batik
Bagi Amanda, batik tidak harus selalu tampil dalam bentuk pakaian formal. Ia melihat batik sebagai material yang memiliki potensi besar untuk diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk desain.
Pendekatan itu terlihat melalui karya-karyanya yang menghadirkan batik dalam busana ready-to-wear, seperti blazer, dress, outer, hingga celana. Potongan yang lebih modern membuat batik dapat dikenakan dalam berbagai kesempatan, sekaligus membuka kemungkinan bagi generasi muda untuk mengenalnya dalam konteks yang lebih dekat dengan keseharian.
Di sinilah Amanda berusaha mempertemukan dua hal yang terkadang dianggap berseberangan, yakni tradisi dan modernitas. Teknik dan identitas batik tetap dipertahankan, sementara bentuk, warna, komposisi, serta cara penggunaannya dibuat lebih sesuai dengan gaya hidup masa kini.

Dari Busana hingga Pengalaman
Salah satu hal yang menarik dari pendekatan Amanda adalah caranya melihat batik bukan sekadar sebagai motif pada kain. Batik juga dapat menjadi sebuah pengalaman yang melibatkan berbagai indera.
Gagasan tersebut antara lain terlihat dalam koleksi “The 5 Senses of Batik”, yang mengeksplorasi batik melalui pengalaman penglihatan, sentuhan, pendengaran, penciuman, hingga rasa. Pendekatan ini menunjukkan bahwa batik dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas sebagai bagian dari pengalaman budaya dan gaya hidup.
Cara pandang tersebut pula yang kemudian membuka kemungkinan baru bagi batik untuk hadir di luar ranah fesyen.
Melalui kolaborasi bersama Vinoti Living, Amanda membawa eksplorasi tersebut ke ruang interior melalui koleksi “Ruang Setaman”. Koleksi ini menjadi pertemuan antara kekayaan batik Indonesia, craftsmanship, tekstil, dan kebutuhan interior modern.

Batik Masuk ke Ruang Hunian
Ruang Setaman menerjemahkan inspirasi flora Indonesia, warisan budaya, dan kehidupan modern ke dalam berbagai aksesori interior. Batik tulis dipadukan dengan sulaman bunga buatan tangan, manik-manik, kanvas, serta berbagai detail tekstil.
Jika sebelumnya batik lebih banyak dijumpai sebagai bagian dari busana, melalui koleksi ini karakter batik hadir sebagai elemen pembentuk suasana ruang.
Motif floral diterjemahkan dalam berbagai skala dan fungsi, mulai dari wall art, decorative cushion, hingga table runner. Elemen tersebut dapat menjadi aksen sekaligus focal point dalam sebuah ruangan, tanpa membuat interior kehilangan kesan modern.
Karakter setiap material juga tetap dipertahankan. Batik tulis menghadirkan kedalaman pola, sementara sulaman dan aplikasi manik-manik memberikan dimensi serta tekstur yang semakin terlihat ketika diamati dari dekat.
Pada ruang keluarga, misalnya, elemen flora melalui wall art dan decorative cushion dapat memberikan aksen visual sekaligus memperkuat karakter ruang. Sementara pada area dining atau console, table runner dan art piece menghadirkan detail yang lebih ringan.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa batik memiliki kemungkinan penggunaan yang jauh lebih luas. Nilai tradisionalnya tidak harus hilang ketika ditempatkan dalam konteks modern. Sebaliknya, teknik dan karakter yang melekat pada batik justru dapat memberikan identitas pada ruang.

Menjaga Tradisi, Membuka Ruang Baru
Perjalanan Amanda Hartanto menunjukkan bahwa mempertahankan tradisi tidak selalu berarti mempertahankan bentuk penggunaannya seperti di masa lalu. Tradisi juga dapat terus hidup ketika diterjemahkan sesuai perkembangan zaman.
Batik tetap memiliki nilai melalui proses pembuatannya, teknik yang digunakan, serta identitas budaya yang dibawanya. Pada saat yang sama, kreativitas membuka kemungkinan agar batik dapat hadir dalam bentuk dan ruang yang lebih beragam.
Kolaborasi dengan Vinoti Living menjadi salah satu contoh bagaimana pendekatan tersebut dapat diterapkan. Melalui Ruang Setaman, batik tidak hanya dipandang sebagai bagian dari fesyen, tetapi sebagai elemen yang dapat memperkaya pengalaman berada di dalam sebuah ruang.
Di tengah perkembangan desain interior yang semakin beragam, kehadiran unsur lokal menjadi cara untuk memberikan karakter yang lebih personal. Batik, dengan kekayaan motif, warna, teknik, dan proses pengerjaannya, memiliki potensi untuk menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Pada akhirnya, apa yang dilakukan Amanda Hartanto bukan sekadar membawa batik keluar dari kesan tradisional. Lebih jauh, ia membuka kemungkinan agar batik tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern—dikenakan, disentuh, dilihat, dan kini hadir pula di dalam ruang tempat kita menjalani keseharian.
Koleksi Ruang Setaman hasil kolaborasi Amanda Hartanto Batik dan Vinoti Living saat ini dapat ditemukan di Vinoti Living Store, Indonesia Design District, PIK 2.






















